Sabtu, 30 April 2011

Sampai pada Suatu Masa

apalagi yang tersisa disini?
selain secangkir hangat teh racikanmu, manis
semua sudah pergi

sebuah pelataran tua, dipan bambu membujur mesra
dan biar aku coba meraba sedikit
entah itu lenganmu, atau apalah
demi kepalaku yang ingin menyandar
demi selarik nafas yang tinggal menunggu dihela
habis sudah
saat bentang hijau sawah disana
dan pinggiran kali yang bergemericik manja
telah berkalipun menyuguhkan siluet senja
semua lewat begitu saja
sama sekali, sama sekali tak pernah punya sisa

sebuah catatan kecil, pada sepi pagi ini
nanti akan kubaca lagi
biar sampai pada suatu masa
kelak, akan kulelehkan air mata

21 Agustus 2010
06.17 WIB
: kepada hidup yang sesekali terasa sangat berat.

...sebait sajak cinta di bawah hujan

pejalan kaki yang menyanyikan sajak lelah di bawah hujan
dalam air mata yang dia senyumkan
terus berjalan
seiring gerimis mendera dalam tarian
ada juga sajak cinta
yang keluar dari mata basah
saat dia lelah

Anjungan, 25 Desember 2010
10.21 WIB

n.b.
Sajak ini terpikirkan saat singgah di gubuk seorang penjual buah nanas di Anjungan. Aku dan temenku Fitra Rusadi kehujanan. Kami dalam perjalanan menuju kampung tercinta, Sanggau Ledo.
Saat berteduh inilah kulihat seorang kakek yang mendorong sepeda dengan keranjang di kiri dan kanan penuh dengan buah nanas. Tegar sekali. Aku tau dia lelah. Tapi dia tetap melakukannya dengan penuh cinta. Keluarganya menunggu di rumah.

...gerimis dan kita

lagi, kudengar kau berdendang
lagu paling manis
tentang gerimis dan kita
ada bunga rekah disana
semerah saga
secerah jingga
selentik tari kaki angsa
mengitari kerjap matamu
yang pada senja tadi adalah telaga
lalu mengabur mesra
pada malam yang kian sempurna

25 April 2011
23.27 WIB

Jumat, 29 April 2011

pada sajak yang tak pernah selesai ini…

gerimis kian menjelma sebagai hujan
membadai mengaburkan kaca-kaca jendela kereta perpisahan
sekali waktu masih kutunggu kau turun, sekedar untuk mengecup keningku saja
tapi urung kau lakukan: sebab gerimis mambadai sebagai hujan,
katamu pelan.

“pisah ini akan sampai juga, sayang” katamu tapi tak kudengarkan
sedang aku hanya ingin memaknai pisah ini dengan segaris senyum menerima
sayang kaki-kaki hujan tak hanya membasahi tanah tempat keretamu bersandar,
tapi mataku juga. tak bisa kugambar senyumku dibalik jendela kereta
aku mulai menulikan telinga
“pisah ini akan sampai juga, sayang” lagi katamu, tapi tak kudengarkan.

beribu basah yang menerpa telah kuseka, juga air mata
dan dibalik jendela itu, kulihat kau juga melakukan hal yang sama
kini yang tiba dimataku tak lagi kau yang tegar
yang selalu menyalakan matahari saat malam menghantam jalanku
yang selalu menuang air dalam gelasku saat kemarau jalang bercerita
air mengalir dimatamu: bercerita tentang lembar yang hampir terkoyak
sedang didalamnya kau ceritakan kupu-kupu yang terbang dengan tarian-tarian

aku ingin lagi mendengar detak jantungmu saat malam kian menua
merasakan lagi hangat teh yang kau seduh disepanjang gerimis senja dan musim bunga
“pisah ini akan sampai juga, sayang” katamu tapi tak kudengarkan
sebab kau masih akan meneruskan tidurmu: memimpikan aku sore ini
dikeretamu yang masih terhenti

dan aku?
biar kurupa kau menjadi gerimis yang tenang,
yang menidurkanku saat senja mulai temaram
meski kerikil menghadang jejak-jejak langkahku menujumu
kaulah malamku yang memesonakan
ingin kugambar kau laksana kupu-kupu yang terbang dengan tarian-tarian
yang hinggap manja di dahan juga dedaunan pohon-pohon randu
dan selalu kukenang kau disini
pada sajak yang tak pernah selesai ini...



16 Februari 2010
01.36 WIB